Home > Peta > Manual Grafikal GeoKKP BADAN PERTANAHAN NASIONAL REBPUBLIK INDONESIA
Manual Grafikal GeoKKP BADAN PERTANAHAN NASIONAL REBPUBLIK INDONESIA
Posted on Jumat, 09 Mei 2014 by Unknown
PETA dapat didefinisikan sebagai representasi permukaan fisik bumi yang ditampilkan secara grafik pada bidang planar Peta
menampilkan isyarat,simbol dan hubungan spasial diantara fitur geografik,
Adakalanya peta menekankan,mengeneralisasi dan
menghilangkan fitur tertentu sesuai dengan kebutuhan peta tersebut.Sebagai contoh,jalan kereta api mungkin saja ditampilkan pada peta
transportasi tetapi dihilangkan dari peta jalan
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi,maka teknologi pemetaan juga berkembang ke arah Sistem Informasi Geografik atau sering disingkat dengan SIG.SIG adalah integrasi antara data geografik,
data atribut dan data – data bereferensi geografik lainnya didalam sebuah sistem terkomputerisasi sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan.
SIG dipakai untuk mengumpulkan,menyimpan,memanggil,menganalisa dan menampilkan data spasial.
Dalam hubungannya dengan basis data relasional dan peta digital,SIG dapat diilustrasikan sebagai berikut
Gambar XX.Hubungan Antara Basis Data,CAD,danSIG,Basis data relasional pada umumnya hanya menyimpan data–data tekstual dan tidak dihubungkan dengan data spasial,sebaliknya peta-peta digital dalam format CAD tidak dilengkapi dengan data atribut.
Struktur Data Spasial DXF
memperoleh informasi spasial yang tergambar pada peta digital dari database relasional atau sebaliknya,pengguna bisa memperoleh informasi yang tersimpan pada basis data relasional melalui peta digital.
Dengan demikian jelas sekali terlihat bahwa tidak bisa dilakukan komparasi atau perbandingan antara kemampuan software-software CAD (AutoCad, Microstation) dengan software-software SIG(Smallworld,Arc GIS, MapInfo)karena memang 'wilayah kerja' software tersebut berbeda.
Hal ini dikarenakan software-software CAD dirancang bukan untuk mengelola sistem informasi geografis, sebaliknya software-software SIG dibuat dengan kondisi editing tool yang tidak terlalu baik.
Meskipun beberapa software CAD sekarang ini dilengkapi dengan modul untuk mengelola data spasial seperti AutoCad dengan AutoCad Map dan Microstation dengan Microstation Geographic,masih tetap saja ada
kelemahannya yaitu software-software tersebut tidak bisa menangani data-data spasial dengan ukuran yang besar.
Berbeda sekali dengan software-software GIS yang memang dipersiapkan untuk mengelola data
geografis dengan ukuran yang besar.
Untuk mengatasi keterbatasan editing tool pada perangkat lunak SIG, maka peta digital bisa dibuat
dengan menggunakan perangkat lunak CAD yang mempunyai 'engine' topologi.
Selanjutnya peta–peta digital tersebut diimport ke dalam SIG.
Keuntungan yang bisa diperoleh dengan mensinergikan dua perangkat lunak CAD dan SIG adalah kecepatan penggambaran dan kemampuan pengelolaan data spasial.
Kendala yang dihadapi dalam mensinergikan dua perangkat lunak tersebut adalah mengenai format data. Seperti telah
diketahui bersama,data-data tekstual yang diorganisasikan dalam suatu database relasional memiliki banyak sekali kaidah agar tercipta suatu kondisi dimana tabel–tabel yang membetuk database tersebut normal
(tidak ada redudancy dan duplikasi data).
Redudancy data biasanya dikurangi dengan memecah tabel menjadi beberapa tabel dan masing–masing tabel tersebut direlasikan dengan sebuah 'foreign key'.
Duplikasi data dapat dikurangi dengan penggunaan 'primary key' yaitu sebuah nilai(value) yang unik yang membedakan suatu objek dengan objek lainnya.
Norma–norma tersebut tidak pernah ditemukan pada peta digital dengan format CAD.
Seorang operator CAD bisa memasukkan entity apa saja pada peta digital tanpa terikat oleh norma – norma basis data
relasional.
Seorang operator bahkan bisa membuat sebuah layer yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
Hal ini tentu saja akan menyulitkan dalam proses integrasi data nantinya. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu
standarisasi mengenai peta digital,sehingga menjamin peta tersebut dapat diintegrasikan dengan database relasional.
Tujuan pembuatan standar struktur data DXF ini adalah untuk menerapkan standar yang jelas dalam pembuatan peta digital di lingkungan Badan Pertanahan Nasional.
Dengan standar struktur data ini,Badan Pertanahan Nasional
diharapkan proses import data ke dalam sistem informasi geografis dapat berjalan dengan baik.
Selain itu,dengan struktur data yang jelas diharapkan peta–peta tersebut bisa dipahami oleh semua pihak,baik dilingkungann BPN maupun instansi lain diluar BPN yang memerlukan data –data spasial bidang tanah.
STANDAR SISTEM PROYEKSI DAN PENOMORAN LEMBAR
Standar sistem proyeksi diperlukan untuk memastikan adanya kesamaan pola distorsi sudut,luas dan jarak pada peta.
Seperti telah diketahui,setiap sistem proyeksi peta hanya mampu meminimalkan distorsi,tidak menghilangkan. Karakteristik distorsi tersebut berbeda–beda untuk setiap sistem proyeksi.
Dengan adanya kesamaan pola distorsi,diharapkan peta–peta pendaftaran diseluruh wilayah indonesia dapat disatukan dalam satu sistem peta tunggal.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997,sistem koordinat nasional menggunakan sistem koordinat proyeksi Transverse Mercator Nasional dengan lebar zone 3: atau disingkat TM3:. Berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut, sistem koordinat TM3: memiliki ketentuan
– ketentuan sebagai berikut
.Meridian sentral zone TM-3: terletak 1,5 derajat di timur dan barat meridian sentral zone UTM yang bersangkutan
.Besaran faktor skala di meridian sentral yang digunakan dalamZone TM-3: adalah 0,9999
.Titik nol semu yang digunakan mempunyai koordinat (X) =00.000 m barat dan (Y) = 1.500.000 m selatan.
.Model matematik bumi sebagai bidang referensi adalah spheroid pada datum WGS-1984 dengan parameter a = 6.378.137 meter dan f = 1 / 298,25722357 World Geodetic System 1984 (WGS 84) selanjutnya dikenal juga dengan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN 95). Selengkapnya, datum ini mempunyai parameter sebagai berikut
.Jari-jari ekuator (a) = 6.378.137 m
.Penggepengan (f)= 1 : 298,25722357
.Setengah sumbu pendek (b):= 6.356.752,314 m
.Jari-jari kutub (c)= 6.399.593,626 m
.Eksentisitas I kuadrat (e:)2= 0,006694380
6.Eksentrisitas II kuadrat (e':):= 0,006739497
Berdasarkan titik semu tersebut dan dengan beberapa penyederhanaan,satu zone TM-3: akan berupa sebuah persegi panjang dengan dengan koordinat titik kiri bawah adalah (32.000, 282.000)dan titik kanan atas adalah (368.000, 2.166.000).
Dengan mengacu pada ketentuan tersebut, maka pembagian zone
TM3: adalah sebagai berikut :
Dalam penggambaran Peta Pendaftaran,satu zone TM-3: dibagi menjadi beberapa lembar.
Penomoran lembar tersebut disesuaikan dengan skala peta yang akan dibuat.
1.Penomoran Lembar Peta Skala 1:10.000
Untuk peta skala 1:10.000, satu zone TM-3 dibagi menjadi bujur sangkar kecil dengan ukuran 6.000 m x 6.000 m sehingga terbentuk 314 baris dan 56 kolom bujur sangkar. Nomor kolom dan baris masing–masing bujur sangkar tersebut dijadikan dasar penomoran lembar pada skala: 1:10.000.Format penomoran lembar pada skala 1:10.000 adalah kk.bbb dimana kk adalah nomor kolom (2 digit) dan bbb adalah nomor baris (3 digit.
Penomoran baris dimulai dari nomor satu dan makin membesar kearah atas. Penomoran kolom dimulai dari nomor satu dan makin membesar ke arah kanan. Sebagai contoh,bujur sangkar yang terletak pada baris pertama kolom pertama mempunyai nomor lembar 01.001, bujur sangkar yang terletak pada baris terakhir kolom terakhir mempunyai nomor lembar 56.314.
2.Penomoran Lembar Peta Skala 1:2.500 Satu lembar peta skala 1:10.000 dibagi menjadi 16 lembar peta skala 1:2.500 dengan ukuran masing – masing 1.500 m.
Penomoran kotak dimulai dari kotak kiri bawah dengan nomor urut satu.
Nomor ini makin membesar ke arah kanan.
Setelah kolom keempat,penomoran dilanjutkan dari baris diatasnya dan membesar lagi kearah kanan. Demikian selanjutnya sampai baris keempaT,Format penomoran lembar skala 1:2.500 adalah kk.bbb-mm dimana kk.bbb adalah nomor lembar skala 1:10.000 dan nn adalah nomor kotak skala 1:2.500.
3.Penomoran Lembar Peta Skala 1:1.000
Satu lembar peta skala 1:2.500 dibagi menjadi 9 lembar peta skala: 1:1.000 dengan ukuran masing-masing 500 m.
Penomoran kotak dimulai dari kotak kiri bawah dengan nomor urut satu,Nomor ini makin membesar ke arah kanan,Setelah kolom ketiga,penomoran dilanjutkan dari baris diatasnya dan membesar lagi kearah kanan.
Demikian selanjutnya sampai baris ketiga,Format penomoran lembar skala 1:2.500 adalah kk.bbb- mm-n dimana kk.bbb-mm adalah nomor lembar skala 1:2.500 dan n adalah nomor kotak skala 1:1.000.
4.Penomoran Lembar Peta Skala 1:500 Satu lembar peta skala 1:1.000 dibagi menjadi 4 lembar peta skala 1:500 dengan ukuran masing – masing 250 m
Penomoran kotak dimulai dari kotak kiri bawah dengan nomor urut satu,Nomor ini makin membesar ke arah kanan. Setelah kolom ketiga,penomoran dilanjutkan dari baris diatasnya dan membesar lagi kearah kanan,Demikian selanjutnya sampaibaris
ketiga,Format penomoran lembar skala 1:500 adalah kk.bbb- mm-n-o dimana kk.bbb-mm-n adalah nomor lembar skala 1:1.000 dan o adalah nomor kotak skala 1:500.
5.Penomoran Lembar Peta Skala 1:250
Satu lembar peta skala 1:500 dibagi menjadi 4 lembar peta skala 1:250 dengan ukuran masing–masing 125 m.
Penomoran kotak dimulai dari kotak kiri bawah dengan nomor urut satu,Nomor,ini makin membesar ke arah kanan Setelah kolom kedua,penomoran dilanjutkan dari baris diatasnya dan membesar lagi kearah kanan,Demikian selanjutnya sampai baris kedua,Format penomoran lembar skala 1:250 adalah kk.bbb.nn.m.o.p dimana kk.bbb.nn.m.o adalah nomor lembar skala 1:500 dan p adalah nomor kotak skala 1:250.
STANDAR SATUAN GAMBAR
Standar satuan gambar ini sangat terkait dengan data spasial utama yang dikelola oleh BPN, yaitu bidang tanah. Setiap bidang tanah memiliki identitas unik yang disebut dengan nomor identitas bidang.
Nomor identitas bidang ini terdiri dari 13 digit numerik. Delapan digitpertama merupakan kode desa persil yang bersangkutan dan 5 digit berikutnya dikenal dengan istilah nomor induk bidang. Nomor identitas bidang tersebut selalu unik untuk setiap bidang diseluruh wilayah indonesia karena kode desa bersifat unik,
tetapi nomor induk bidang (5 digit terakhir) bisa sama untuk desa yang berbeda,Pada peta pendaftaran, yang ditampilkan hanyalah nomor induk bidangnya saja. yaitu digit :terakhir.Oleh karena itu,satuan peta pendaftaran seharusnya di buat perdesa,mengikuti sistem penomoran nomor identitas bidang,Hal ini berarti dalam satu file peta digital hanya ada satu kode desa saja.
Jika diperlukan untuk mengimport data ke dalam SIG, nomor identitas bidang sebagai kode yang unik dengan mudah bisa diperoleh dengan menggabungkan kode desa dengan nomor induk bidang setiap bidang tanah.
Bagi kantor yang memiliki dua zone, maka dilakukan penyederhanaan pembagian zone per desa dilihat dari kecenderungan
desa tersebut masuk ke dalam zone berapa.
Untuk keperluan pencetakan perlembar berdasarkan peta–peta perdesa tersebut akan dijelaskan pada bagian standar format pencetakan.
STANDAR PENAMAAN FILE DAN DIREKTORI
Setiap file dengan satuan per desa disimpan dengan nama file sesuai dengan kode desanya. Struktur direktori untuk penyimpanan file dimulai dari kode kantor. Kode kantor mempunyai sub direktori kode
kecamatan.
File peta digital disimpan dibawah kode kecamatan sesuai dengan kecamatan desa yang bersangkutan seperti gambar berikut ini Untuk kepentingan back up data secara permanen,data disimpan dalam bentuk CD data. CD tersebut dilengkapi dengan sampul yang menerangkan isi CD tersebut dan informasi–informasi penting lainnya.
STANDAR PENAMAAN LAYER DAN ENTITAS
Peta – peta digital yang dibuat dengan perangkat lunak CAD pada umumnya diorganisasikan dalam beberapa layer. Layer adalah sebuah lapisan transparan yang memuat entity tertentu. Setiap entity yang
memiliki kesamaan tema digambar pada satu layer,Dilain pihak, perangkat lunak SIG mengorganisasikan data dalam bentuk tabel,Untuk mempermudah proses import kedalam sistem informasi geografis,penamaan layer harus konsisten.
SIG akan selalu diambil dari layer batas persil dengan identitas persil yang bersangkutan akan selalu diambil dari entity teks pada layer identitaspersil.
Jika penamaan layer dan tipe entitynya tidak konsisten,maka logika pemrograman dalam proses import sulit untuk diterapkan. Selain nama layer,tipe entity yang terdapat pada suatu layer juga harus sama.
Sebagai contoh: layer batas persil tidak boleh memiliki entity selain polyline.
Contoh lainnya adalah layer NIB tidak boleh memiliki entity selain teks,Hal ini dilakukan untuk menjamin tidak ada kesalahan penempatan entity pada suatu layer,Secara umum nama layer didefinisikan sebagai 6 digit desimal dan dikelompokkan berdasarkan layer batas administrasi, layer kadastral,layer perairan,layer transportasi, layer titik tinggi geodesi, layer titik dasar teknis, layer bangunan, layer teks, layer penggunaan tanah, layer kontur dan layer bingkai/frame dan layer raster. Standar penamaan layer tersebut adalah sebagai berikut:(Format Pdf nya nyusul)
Setiap entity titik didefinisikan sebagai blok atau blok atribut,Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemberian simbol bagi titik tersebut,
Khusus untuk titik yang mempunyai identitas seperti titik GPS, titik tinggi, dan lain–lain dibuat dengan blok atribut sehingga dimungkinkan setiap simbol titik tersebut,berafiliasi dengan text yang menjelaskan titik tersebut,
Posisi titik akan dijelaskan oleh insertion point dari blok tersebut dan identitas titik yang bersangkutan akan diterangkan oleh atribut blok tersebut.
STANDAR STRUKTUR DATA SPASIAL
Struktur data spasial yang dipakai adalah data spasial dengantopologi.
Topologi didefinisikan sebagai aturan geometri dalam suatu ruang yang menjamin integritas data spasial. Tipe topologi disesuaikan dengan type entity,Tidak semua entity pada peta digital memiliki topologi,tetapi semua entity adalah bagian dari topologi. Sebagai contoh, teks NIB yang tersimpan pada layer NIB tidak mempunyai topologi tetapi digunakan sebagai centroid pada topologi persil.
Beberapa tipe entity yang dipakai sebagai element topologi antara adalah titik,garis/polyline, luasan/area dan teks.
Beberapa tipe topologi yang sering dipergunakan untuk membuat peta digital antara lain:
.Topologi Node.
Topologi Node adalah hubungan spasial diantara feature titik,Sebagai contoh adalah topologi sebaran titik GPS.
Tipe topologi ini menyimpan koordinat semua node (dalam sistem koordinat tertentu)
Node tersebut bisa berupa titik,ujung suatu link atau perpotongan link.
.Topologi jaringan.
Topologijaringan adalah hubungan spasial diantara garis seperti diilustrasikan pada gambar berikut Berdasarkan topologi node seperti yang dijelaskan diatas,bisa dibuat link,Link tersebut mempunyai arah yang bisa ketahui dengan menyimpan informasi mengenai mengenai node awal dan node akhir link tersebut,Link terbentuk oleh beberapa garis lurus yang menghubungkan beberapa vertex sehingga link bisa berupa kurva yang halus.
Contoh topologi jaringan adalah adalah topologi jaringan jalan, saluran listrik, sungai dan lain-lain.
.Topologi Poligon
Topologi Poligon adalah hubungan spasial diantara feature geografik yang berupa luasan.
Poligon pada dasarnya dibentuk oleh link,Sebuah poligon didefinisikan dengan menyimpan link yang membatasi poligon tersebut,Dengan topologi ini, sebuah garis yang merupakan perbatasan poligon akan digambar sekali saja.
.Topologi Kiri–Kanan(contiguity)
Dengan adanya topologi kiri–kanan ini,topologi bisa menjawab pertanyaan mengenai konektivitas sebuah poligon, misalnya poligon tetangga.
Data–data digital hasil dijitasi ataupun penggambaran langsung secara digital sering kali masih mengandung kesalahan sehingga belum siap untuk dibangun topologinya. Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:
.Duplikasi objek.
Setiap objek dalam satu layer tidak boleh kongruen (sama dan sebangun) pada posisi yang sama
.Segment yang sangat pendek.
Segmen yang sangat pendek sering kali menimbulkan tampilan yang kurang indah (jagged/bergerigi
.Dengan pertimbangan tertentu,segmen ini sebaiknya dihilangkan.
.Objek grafik yang berupa garis/polyline,luasan/area selalu memiliki node dan vertek,Pada suatu layer yang sama,setiap garis yang bersilangan harus berpotongan pada satu vertek
.Tidak ada “dangling lines”
Dangling lines adalah suatu kondisi dimana sebuah garis tidak kontinyu,
Ketidakkontinyuan tersebut bisa disebabkan oleh overshoot atau undershoot.
(Bersambung ke Post berikutnya "Manual Grafikal GeoKKP BADAN PERTANAHAN NASIONAL REBPUBLIK INDONESIA" buat versi Asli dan lengkapnya silakan download File Pdf dan Word nya) DISINI
Kategori Artikel, Peta
One Response to “Blog nya orang-orang Merdeka”
Diberdayakan oleh Blogger.
Cari disini aja gan
Kategori
Arsip Blog
-
▼
2014
(34)
-
▼
Mei
(24)
- Download MapInfo Professional ver.7.0
- Download lagu Bohemian Rhapsody dari Queen
- Melawan Lupa,mereka yang hilang Vs mereka yang (ba...
- Download Koleksi lagu Metal Hardcore Gothic part II
- Download Koleksi lagu Metal Hardcore Gothic part one
- Iwan Fals Kupu kupu hitam putih
- Download Bluestacks,Aplikasi Emulator untuk menjal...
- download Mozilla Firefox versi terbaru
- Download Game Android ULTIMATE MOTOCROSS.apk
- Download Peta Topografi
- Download IDM terbaru tanpa register
- Just for Gag,Kumpulan gambar meme buat DP BBM ato ...
- Taukah kita gambar gunung legendaris yang selalu k...
- Download Full album PURGATORY-Beauty lies beneath
- Download peta dinding JABAR dan JATIM
- DEADSQUAD - Patriot Moral Prematur (OFFICIAL VIDEO)
- Download Lagu PURGATORY-The batle of Uhud.mp3
- Download lagu nya PURGATORY-Lord of war (Ahlul Naar)
- Download Film Kantata Taqwa (2008) Full Movie
- Manual Grafikal GeoKKP BADAN PERTANAHAN NASIONAL R...
- Manual Grafikal GeoKKP dan autoCAD map
- citra Tm3 kabupaten Kuningan
- download aplikasi konversi korrdinat UTM ke TM3
- Aplikasi buat ngonversi zona Utm ke Tm3
-
▼
Mei
(24)

mul bagi manual geo kkp